• (0733) 451763
  • MTs 0853-8331-1444
  • MA 0852-7300--0989
  • SDTQ 0853-6881-1112

Call Now+62 853-7829-6633

Our LocationLubuklinggau, Sumatera Selatan

Mail Usadmin@mazroillahlubuklinggau.com

Sejarah Pondok Pesantren Mazroillah Lubuklinggau

LATAR BELAKANG SEJARAH

BERDIRINYA SEKOAH TINGGI AGAMA ISLAM AR-RISALAH

MUSI RAWAS

Kota Lubuklinggau adalah salah satu kota administrative  yang berada wilyah kabupaten Musi Rawas provinsi Sumsel yang baru berdiri secara otonom sejak tahun 2001. Menurut sejarah tahun 1929 status Lubuklinggau adalah sebagai Ibu Kota Marga Sindang Kelingi Ilir, dibawah Onder District Musi Ulu. Onder District Musi Ulu sendiri ibu kotanya adalah Muara Beliti. Tahun 1933 Ibukota Onder District Musi Ulu dipindah dari Muara Beliti ke Lubuklinggau. Tahun 1942-1945 Lubuklinggau menjadi Ibukota Kewedanaan Musi Ulu dan dilanjutkan setelahkemerdekaan. Pada waktu Clash I tahun 1947, Lubuklinggau dijadikan Ibukota Pemerintahan Propinsi Sumatera Bagian Selatan. Tahun 1948 Lubuklinggau menjadi Ibukota Kabupaten Musi Ulu Rawas dan tetap sebagai Ibukota Keresidenan Palembang. Pada tahun 1956 Lubuklinggau menjadi Ibukota Daerah Swatantra Tingkat II Musi Rawas. Tahun 1981 dengan Peraturan PemerintahRepublik Indonesia Nomor 38 tanggal 30 Oktober 1981 Lubuklinggau ditetapkan statusnya sebagai Kota Administratif. Tahun 2001 dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001 Lubuklinggau statusnya ditingkatkan menjadi Kota. Pada tanggal17 Oktober 2001 Kota Lubuklinggau diresmikan menjadi Daerah Otonom.

Secara umum kondisi masyarakat saat itu cukup dinamis, baik dari sisi social kemasyarakatan, dari sisi budaya, dari sisi ekonomi maupun dari sisi keagamaan. Meskipun sudah ada kegiatan keagaman, boleh dikatakan asset agama masih sangat minim, beberapa masjid tidak terurus bahkan menjadi tempat penggembalaan kambing, sumurnya yang tertutup semak belukar, masjidpun penuh dengan kotoran burung dan cicak.Sedangkan asset agama selain masjid, hanya ada Yayasan Darul Ma’arif (YADARMA) di talang jawa (sekarang menjadi pondok pesantren Ittihadul ’Ulum), dan Madrasah Diniah Annur di jalan Garuda Hitam. Selain itu berupa Madrasah Tsanawiyah Negeri dan Madrasah Aliyah Negeri.

Beriring waktu keinginan masyarakat mempelajari agama semakin meningkat dan semakin luas. Nilai-nilai keagamaan ditanamkan melalui beberapa cara, antara lain: ceramah sebelum jum’at, pengajian ibu-ibu, dan pengajian untuk karyawan-karyawan BUMN. Di antara tokoh masyarakat dan pemuka agama ketika itu: KH. Zahruddin, Sy, KH. Abdullah Hasyim, KH. Aziz Makmin, KH. Zainal Arifin, Bapak Sholeh Rouf dan KH. Muabbir, Haji Ung, Haji Naning, ibu Romlah, ibu Hj. Aminah dan ibu Nurseha. Dengan mereka inilah Hanya saja mereka sudah cukup sepuh dan belum memiliki kader penerus. Dan inilah yang menginspirasi perintis, KH. S. Syaiful Hadi, akan perlunya kader dan cara yang paling pas adalah dengan cara mendirikan pondok pesantren.

Yang melatarbelakangi sekaligus sebagai motivasi untuk mendirikan pondok pesantren adalah ada isyarat dari prof. KH. Abdullah bin Nuh yang menyarankan untuk menyebarkan ilmu ke arah Barat dan kota Lubuklinggau ada di bagian barat Indonesia, kondisi masyarakat kota Lubuklinggau masih membutuhkan binaan khususnya di bidang keagamaan, antusiasme dan semangat masyarakat untuk mendalami agama, adanya dukungan dari pihak keluarga, tokoh masyarakat, pemuka agama dan pemerintah seperti bapak KH. Zahruddin, H. Mazaris H. Masawang, bapak Arpan Abdullah, bapak Rusli Batun, bapak Sholeh Rouf, dan bapak bupati Syueb tamat, dan belum adanya kader penerus beberapa ulama sepuh seperti KH. Zahruddin Sy, KH. Abdullah Hasyim, KH. Aziz Makmin, bapak Sholeh Rouf dan KH. Muabbir. Di dukung gagasan bupati Musi Rawas, bapak Drs. H. Syueb Tamat, yang menginginkan adanya pondok pesantren di Musi Rawas, menjadi motivasi untuk mendirikan pondok pesantren di kota Lubuklinggau.

Tujuan utama mendirikan pondok pesantren tersebut: (1) mengoptimalkan diri menjadi orang bermanfaat melalui disiplin ilmu yang Allah berikan; (2) Membela agama Allah  dengan cara menebarkan ilmu pengetahuan dan membentuk kader; (3) mencetak kader yang mampu memperjuangkan prinsip-prinsip ketuhanan.

Pelopor berdirinya Pondok Pesantren Ar-Risalah secara khusus bahkan pelopor berdirinya sistem pendidikan berbasis Pondok Pesantren di Kota Lubuklinggau adalah KH. S. Syaiful Hadi Ma’afi, BA. Beliau adalah seorang ulama kharismatik di Bumi Silampari berasal dari Provinsi Banten yang dilahirkan di Desa Tanara, sebuah desa yang sarat akan nilai-nilai religius yang telah melahirkan beberapa ulama besar seperti Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi, Syeikh ’Ulama Hijaz, gurunya para ulama dan kyai-kyai besar Indonesia yang belajar di Mekkah. Abah Aji –sebutan akrab beliau- dilahirkan pada tanggal 14 April 1959. Kyai yang memiliki motto ”kepada Allah beribadah, kepada sesama makhluk Allah berkhidmah dan untuk kejayaan agama Allah bermujahadah, dibesarkan di kalangan keluarga religius, karena orang tua dan kakek-kakek beliau merupakan keturunan ulama, bahkan secara nasab beliau adalah keturunan yang ke 12 dari Sultan Maulana Hasanuddin Banten putra Syeikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati Cirebon).

1. Sultan Maulana Hasanuddin Banten
2. Pangeran Jaga lautan Pulau Cangkir
3. Kyai haji Raden Kenyep (Ahli Kasyaf)
4. Syeikh Cili Wulung
5. Kyai Haji Cinding
6. Kyai Hasan
7. Kyai Satam
8. Buyut Boyot
9. Buyut Boma
10. Bayyinten (Bayyinah)
11. Marikat Ma’afi
12. KH. S. Syaiful Hadi Ma’afi, BA

Gambar 3. Gambar silsilah nasab abah aji.

Abah Aji lebih banyak menempuh pendidikan melalui jalur non formal dan informal. Karena beliau hidup dan dibesarkan di lingkungan masyarakat yang sarat akan nilai-nilai keagamaan, beliaupun memulai perjalanan ilmiahnya di beberapa pondok pesantren yang ada di wilayah Banten dan sekitarnya. Di antara guru yang berjasa dalam mendidik beliau adalah: KH. Ahmad Mughni H. Daman, di sana abah aji mengikuti pendidikan Madrasah Ibtidaiyah pada pagi harinya, sedangkan malam harinya belajar membaca Al Quran di bawah binaan langsung KH. A. Mughni, hingga dapat membaca Al Quran dengan baik dan benar. Di samping itu juga mengaji kitab-kitab kuning di bidang Ilmu Nahwu dan Shorof. Kemudian Abah Aji melanjutkan pendidikannya di bawah asuhan KH. Asman Asmar, mendalami ilmu-ilmu agama melalui pengajian kitab-kitab kuning. Setelah itu, abah aji direkomendasikan oleh KH. Asman Asmar untuk melanjutkan pendidikannya di bawah asuhan KH. Suhaimi di Banten Utara, seorang ulama kharismatik di wilayah Banten saat itu. Wilayah Banten saat itu dikenal dengan ilmu-ilmu hikmah dan seni beladiri silat paku Banten, beliaupun mendalami ilmu-ilmu tersebut di bawah asuhan KH. Sayuti Cengkel di Padeglang. Setelah itu beliau meningkatkan pendalaman ilmu agama khususnya dalam mengkaji kitab-kitab kuning di tangan KH. M. Amir  di desa Pelamunan (antara Cilegon dan Serang).

Setelah mengembara dari satu pondok ke pondok lain di wilayah Banten, Abah Aji mulai rihlah ke Kota Palembang menyambung silaturrahmi dengan sanak saudara beliau yang tinggal di Palembang. Di Palembang beliau mendalami ilmu-ilmu agama di bawah asuhan Habib Alwi bin Ahmad bin Muhammad Bahsin, seorang ulama besar keturunan Rosulullah SAW, yang lebih dikenal dengan sebutan Ustadz Mu’allim Nang. Selama lebih kurang dua tahun (1977-1979) beliau menimba ilmu di Palembang, beliau direkomendasikan oleh habib Alwi Bahsin untuk melanjutkan pengajian beliau di tangan Ad-Da’i Ilallah wal ’Arif Billah Al Habib Husen bin Abdullah bin Muhsin Al Attas di Empang Bogor. Selama mondok di Empang, beliau tidak hanya sibuk dengan mengaji kitab-kitab kuning saja, tapi beliau juga berkhidmah langsung melayani segala kebutuhan guru beliau. Kecintaan guru beliau terbukti, Abah Aji dipercayai menangani gudang penyimpanan bahan makanan kebutuhan pondok dan keluarga Habib Husen bin Abdullah bin Muhsin Al Attas. Setelah menyelesaikan pendidikan beliau di Empang beliau melanjutkan pengembaraan ilmiah beliau ke tangan seorang ulama besar dunia Islam, beliau Ad-Da’i ilallah Prof. KH. Abdullah bin Nuh di Majlis Al Ihya’ Bogor. Di bawah asuhan mamah Abdullah bin Nuh inilah wawasan intelektual beliau semakin terbentuk dan semakin matang. Sehingga akhirnya beliau berkesempatan untuk belajar dan berdiskusi langsung dengan beberapa ulama Nasional seperti Buya Hamka, KH. Abdullah Syafi’i pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah Jakarta dan KH. M. Syafi’i Hadzami, Ketua MUI Jakarta.

Untuk menyeimbangkan antara wawasan intelektual dengan kekuatan spiritual, beliau pun mengembara hingga ke negeri Jiran, Malaysia, untuk mencari seorang mursyid yang membimbing ruhani/spiritual beliau. Beliau mendapatkan Abuya Ashaari Muhammad Attamimi adalah sosok yang beliau cari. Sosok Abuya lah yang telah banyak menginspirasi beliau dalam mengembangkan dakwah Islam khususnya melalui sistem pendidikan Islam berbasis Pondok Pesantren.

Adapun jenjang pendidikan formal dilalui dengan mengikuti program kejar paket A, B dan C lalu kemudian mengikuti ujian persamaan/ekstranei ketika itu. Jenjang pendidikan tinggi beliau lalui di fakultas Usuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Silampari (STAIS) pada tahun 1984 hingga mendapat gelar sarjana muda. Sedangkan gelar Doktor Honoriscausa berupa penghargaan dari Institut Manajemen Global Jakarta yang diselenggarakan oleh negera asing. Penghargaan tersebut diberikan kepada beliau, karena dinilai sebagai perintis pertama pendidikan pondok pesantren di kota Lubuklinggau, bahkan mempunyai pengaruh besar di daerah, bukan hanya ditingkat kemasyarakatan saja, tapi pemikiran beliau acapkali menjadi masukan bagi pihak pemerintahan.

Setelah menuntaskan pendidikan beliau di Bogor beliau berangkat ke Kabupaten Musi Rawas untuk mencari nenek beliau yang sudah sekian tahun terputus komunikasi keluarga dengannya. Akhirnya beliau dapat berjumpa dengan nenek beliau di desa Bingin Teluk. Sejatinya beliau ingin kembali ke Jawa, tapi selalu ditahan oleh nenek beliau, untuk mengisi kekosongan, beliau mengumpulkan pemuda-pemuda desa untuk diajarkan seni beladiri silat paku Banten sekaligus membimbing mereka dari segi pemahaman keagamaan. Dan hal tersebut mendapat respon positif dari masyarakat sehingga semakin banyak pemuda-pemuda desa yang terbina. Keberadaan beliau di Bingin Teluk terdengar oleh kakek beliau yang tinggal di Kota Lubuklinggau yang ketika itu menjabat sebagai kepala pasar, yaitu Bapak A. Rifai, dan beliaupun diminta datang ke Lubuklinggau. Seperti sebelumnya, di Lubuklinggau pun beliau menghimpun pemuda-pemuda untuk diajarkan silat paku Banten sekaligus bimbingan agama. Kemudian beliaupun mulai memberikan ceramah-ceramah agama untuk masyarakat secara umum. Melihat animo masyarakat yang begitu tinggi untuk memahami agama menggugah hati beliau untuk menetap di Lubuklinggau, hal tersebut sesuai dengan isyarat dan  pesan guru beliau, mamah Abdullah bin Nuh: ”melangkahlah dengan membawa ilmu yang Allah titipkan padamu ke arah barat”. Kedatangan beliau di Bumi Silampari pada tanggal 2 Desember 1981. Beliau aktif berdakwah melalui majlis-majlis ta’lim seperti pengajian ibu-ibu PJKA, pengajian Gema Super, pengajian di masjid Tawakkal, pengajian khusus karyawan BNI, pengajian di masjid Nurul Huda dan pengajian di masjid agung lama (sekarang masjid agung Al Baari) khusus bapak-bapak . Beliau juga aktif sebagai tenaga pendidik dan pengajar di YADARMA /SDI (Yayasan Darul Ma’arif, sekarang menjadi Pondok Pesantren Ittihadul ’Ulum Lubuklinggau), SMA Muhammadiyah Lubuklinggau, MTs Lubuklinggau, dan SMPN Padang Ulak Tanding.

Di bumi Silampari ini beliau memulai perjalanan dakwahnya, melalui majlis taklim dan pengajian-pengajian serta ceramah-ceramah agama yang beliau berikan pada even-even tertentu seperti walimatul ‘urs, aqiqah dan khitanan dan sebagainya. Bahkan pada masa kepemimpinan bapak bupati H. Nang Ali Solichin, SH, beliau diangkat sebagai penasehat keluarga sekaligus guru ngaji ibu-ibu isteri pejabat. Selain dakwah beliau juga aktif di beberapa organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Pernah menjadi ketua Mathla’ul Anwar cabang Kab. Musi Rawas, Ketua I Nahdhotul ‘Ulama cabang Kab. Musi Rawas, Wakil ketua MUI kota Lubuklinggau, anggota tim 3 peralihan kota Lubuklinggau dari Kab. Musi Rawas, anggota dewan pendiri Forum Silaturrahmi Pondok Pesantren se Sumatera Selatan (Forpess) dan sekarang aktif sebagai ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se Kota Lubuklinggau. Mantan Ketua Uum MUI Kab. Musi Rawas dan sekarang menjabat sebagai ketua umum MUI Kota Lubuklinggau. Di forum-forum ilmiah, beliau juga cukup dikenal, selain aktif sebagai peserta juga sebagai pemateri, antara lain: pemateri pada workshop guru ngaji se kota Lubuklinggau dan Kab. Musi Rawas yang diadakan oleh BKPRMI, pemateri pada seminar local “solusi menghentikan bencana dan memakmurkan bangsa, pemateri pada seminar nasional “Al Quran dan Teknologi Canggih”.

Beliau menikah dengan putri seorang tokoh masyarakat, Nyimas Rukiah binti Kemas Mansur Ali pada hari minggu, 10 oktober 1982, melalui pernikahan ini, beliau dikaruniai Allah 5 orang putra putri. Kesemuanya dididik dan dibina serta diarahkan untuk meneruskan perjuangan dakwah beliau melalui berbagai aspek khususnya bidang pendidikan, ekonomi dan dakwah. Putra pertama beliau, H.. Moch. Atiq Fahmi Alhadi, Lc., M.Ag, S1lulusan Universitas Al Ahgaff Yaman dan S2 lulusan IIQ Jakarta, sebagai pimpinan pondok, dikader untuk memperdalam ilmu-ilmu agama dan menyelami dunia dakwah dan kemasyarakatan. Adapun untuk menangani bidang pendidikan dan pengajaran, beliau didik puteri kedua beliau untuk mempelajari manajemen pendidikan, Amrina Rosyada Alhadi, M.Pd, S1 lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan S2 lulusan UNIB Bengkulu. Sedangkan untuk menangani bidang keuangan dan perekonomian pondok, beliau persiapkan puteri ketiga beliau, Muchoyyarotu Millah Alhadi, S.Ei., MM, S1 lulusan STIE SEBI Jakarta dan S2 lulusan Univ. BI Lubuklinggau. Sedangkan putra ketiga disiapkan untuk mengembangkan unit-unit usaha, Ahmaduz Zaki Alhadi, SE, S1 STIE Mura. Putri kelima beliau, Rodliyatum Mardliyyah Alhadi, S.Kom, S1 Universitas Trilogi Jakarta, membidangi IT. Inilah yang disebut program kaderisasi untuk menjaga keberlangsungan pondok, sehingga jangan sampai pondoknya ikut mati karena meninggalnya kyai/pimpinan pondok.

Mendirikan Pondok Pesantren bukanlah perkara mudah, apalagi bagi seorang pendatang yang tidak memiliki modal apapun. Di samping kondisi masyarakat yang belum mengenal istilah Pondok Pesantren. Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang harus dirasakan betul keberadaannya oleh masyarakat, maka pendirian Pondok Pesantren sangat membutuhkan dukungan masyarakat. Di dalam proses mendirikan Pondok Pesantren, pendiri melalui beberapa langkah sebagai berikut:

Langkah pertama      : Fase membangun kepercayaan masyarakat.

Sebagai seorang pendatang baru yang belum begitu dikenal olah masyarakat Lubuklinggau tentunya upaya pertama yang dilakukan adalah mencari simpati masyarakat dan membangun kepercayaan mereka. Hal tersebut bukanlah perkara mudah, mengingat kultur masyarakat yang tidak mudah menerima hal-hal baru apalagi dari orang baru yang belum mereka kenal. Mengingat masyarakat saat itu sangat menghormati tokoh masyarakat dan pemuka agama serta pemerintah, maka yang pak kyai pun mulai menjalin hubungan komunikasi dan silaturrahmi dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama setempat sekaligus menjelaskan pentingnya pendidikan agama terhadap masyarakat dan anak-anak sedini mungkin. Dan hal tersebut akan lebih efektif melalui lembaga pendidikan Islam berbasis Pondok Pesantren. Pemaparan dan penjelasan beliau pun mendapat respon positif dan dukungan dari para tokoh agama, pemuka agama dan pemerintah setempat. Jalinan komunikasi ini beliau bangun dalam kurun waktu yang cukup panjang sejak kedatangan pertama beliau pada tahun 1981 hingga tahun 1984. hal tersebut beliau lakukan melalui kunjungan silturrahmi dan pengajian-pengajian di beberapa tempat di kota Lubuklinggau. Respon positif masyarakat semakin meningkat terbukti adanya jamaah yang sengaja mengundang beliau ke kediamannya untuk mendalami agama lebih lanjut, seperti yang dilakukan oleh Bapak H. Basari, seorang pengusaha rotan asal Cirebon dan juga Bapak H. A. Effendi juga pengusaha asal Cirebon yang menetap di Kota Lubuklinggau sehingga terjalin hubungan kekeluargaan yang sangat erat yang pada akhirnya mewakafkan tanahnya untuk Pondok Pesantren, yaitu lokasi Pondok Pesantren Ar-Risalah sekarang.

Langkah kedua         : Fase Membuka Majlis Ta’lim

Setelah merasa mendapatkan simpati dan dukungan dari tokoh masyarakat, pemuka agama dan pemerimtah setempat, dan sekembalinya beliau dari mengiikuti Muktamar NU ke-26 di Situbondo pada 8 Desember 1984, beliau mulai gagasan pendidikan pesantren melalui sistem majlis ta’lim terpadu, yang diadakan di kediaman beliau di Talang Jawa Lubuklinggau setiap malam Kamis. Semangat masyarakat mendalami ilmu agama tak terbendung, terbukti banyaknya jamaah yang hadir tidak hanya dari kawasan kota Lubuklinggau tapi datang juga dari luar kota seperti Megang, Tugumulyo, Pedang hingga Muara Beliti. Melalui pengajian inilah beliau memahamkan masyarakat tentang pendidikan Islam berbasis Pondok Pesantren dan pentingnya mendidik anak untuk mengenal Tuhannya sejak dini. Dan pada akhirnya beliau pun mengutarakan niat beliau untuk mendirikan Pondok Pesantren di kota Lubuklinggau sekaligus memohon dukungan masyarakat secara umum. Beliau pun mendapat dukungan langsung dari seorang tokoh masyarakat dan juga mantan anggota DPRD Kab. Mura, Bapak Arpan Abdullah, yang mengatakan ”saya siap mendukung pak Syaiful mendirikan Pondok Pesantren”. Kemudian oleh Bapak Arpan ini, pak kyai Syaiful Hadi dipertemukan dengan Bapak H. Mazaris, juga salah seorang tokoh masyarakat Musi Rawas yang juga jamaah pengajian beliau. Setelah mendengarkan paparan konsep pondok pesantren yang akan beliau rintis, tanpa pikir panjang beliau langsung mewakafkan tanahnya yang berada di desa Marga Mulya seluas 1.5 hektar untuk kepentingan pendidikan Islam. Proses pembentukan paradigma masyarakat tentang pondok pesantren dimulai sejak awal kedatangan beliau ke kota Lubuklinggau tahun 1981, berkembang hingga rintisan cikal bakal pondok pesantren melalui majlis taklim terpadu di kediaman beliau di Talang Jawa Lubuklinggau. Hal tersebut berlangsung hingga dirintisnya pondok pesantren Mazro’illah tahun 1988. Sungguh perjalanan waktu yang cukup panjang, dan langkah yang cukup berat bagi seorang pendatang, membangun kepercayaan melalui jalinan silaturrahmi dan komunikasi hingga beliaupun memiliki beberapa orang tua angkat seperti KH. Zahruddin, H. Mazaris, H. Ishak Sani, bapak Arpan Abdullah dan ibu Hj. Annimar H. Nahar, mendirikan majlis taklim dan pengajian-pengajian, bahkan beliau termasuk orang pertamaa yang mengenalkan metode IQRO’ melalui pesantren kilat, sehingga tak berlebihan kalau beliau dipinta khusus oleh bapak H. Nang Ali Solichin, SH, mantan bupati Musi Rawas untuk menjadi guru ngaji ibu-ibu PKK.

Langkah Ketiga         : Fase pendirian Mazro’illah tahun 1988

Setelah dilakukannya serah terima wakaf dari wakif ke penerima, yaitu dari bapak H. Mazaris dan Istrinya Hj. Zuhroh ke Bapak KH. S. Syaiful Hadi Ma’afi, BA sebagai penerima wakaf. Dan setelah administrasi kewakafan diselesaikan, mulailah beliau membentuk badan pendiri pondok pesantren dalam rangka persiapan peresmian, yang terdiri dari: Bapak KH. S. Syaiful Hadi sendiri, Bapak H. Mazaris (pewakif), Bapak Arpan Abdullah (tokoh masyarakat), Bapak Rusli Batun (ketua NU), Bapak Ki Masduki (ketua Muhammadiyah), Bapak Haris Padilah (Perti). Setelah semua persiapan dirasa cukup maka operasional pondok pun di buka secara resmi oleh Bapak Bupati Musi Rawas saat itu, Bapak Drs. H. Syueb Tamat pada tahun 1988. Dan Pondok Pesantren tersebut di beri nama Mazro’illah, diambil dari nama pewakifnya H. Mazaris dan Hj. Zuhro. Sejak saat itu program pendidikan dan pengajaran dimulai dengan konsep dasar ”mendidik anak untuk memahami ilmu agama secara mendalam dan berwawasan intelektual”.